Kamis, 21 Agustus 2014

(Akhirnya) Indonesia Punya Presiden

Haha...SENGKETA PILPRES...terlalu konyol melihat realita yang ada saat ini. Kok bisa ya, demokrasi dicederai? (sakitnya ke seluruh rakyat hoho). Kisruh kok dipelihara #salah. Ini kasus ya? #shock. Praduga tak bersalah, memang. Junjung tinggi keputusan hukum tertinggi. Ambil positi negatinya lah. Apa akibatnya jika Pilpres ini diulang? Biaya dari mana lagi? (nggak mungkin lah)

Anarki dan kisruh bukan solusi sobat. Mana komitmen kita taat hukum? Mana respectnya? Perlu pertumpahan darah lagi? (kita udah merdeka tuk berpendapat kawan). TIDAK. Kita semua bersaudara. Jangan sampai diadu domba. Mana siat baik selama pemilu? Damai? Oh..lupa kah? *purapura lupa :v



Ini nih...mungkin akibat adanya dua pasang calon saja. Pasti kisruh yang terjadi. Aturan mainnya tuh, jika ada TIGA calon. Baru tuh benar-benar menerima keputusan. Logikanya, kalo cuman dua aja. Satu menang, satu kalah. Tu ada yang sakit. Ada yang nggak terima pasti. Padahal rumusnya udah jelas (rumus dunia). Menang kalah pasti ada dan mesti menerima dengan tenang.

Think smart. Indonesia raya adil dan makmur kawan. MERDEKA. Ingat, semua ini juga udah ada campur tangan Tuhan. Yang terbaik untuk Indonesiaku. Berdoa mulai!!!
***(jangan kayak arek cilik)***

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka itu Nggak Gratisan (17-an)



Dirgahayu RI ke-69. Saya rasa sudah cukup sepuh usia negara kita ini sobat. Ibaratkan aja seorang lansia. Tentu sudah banyak pengalaman pahit getir kehidupan hehe. Tapi jangan samakan juga dengan negara lain. NKRI ini beda. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang banyak sekali pulau tercecer, bahkan ada yang masih unknown bin unnamed (bingung juga ya punya banyak pulau :3). Sengketa pulau terluar juga masih sering kurang perhatian. Masalah pergeseran tapal batas dengan negara tetangga terutama yang perlu menjadi sorotan utama. Entah tu geser secara gaib oleh makhluk halus ato kasar haha. Mestinya harus dapat perlakuan khusus. Bagaimana cara agar warisan leluhur Indonesia ini dapat dijaga seutuhnya.


Sebagai WNI, Warga Negara Indonesia yang baik dan benar (kayak EYD aja :v), kita semestinya punya rasa bangga akan apa yang kita miliki di tanah air tempat kita melek pertama kali dan mengenal alam dunia. Bumi pertiwi, bumi kita menjajakan kaki berdiri tegak. Kekayaan alam yang melimpah ruah. ‘Kolam susu’ istilah Koes Plus. Tongkat kayu ditancapkan jadi tanaman. Benar-benar gemah ripah loh jinawi, makmur sentosa.


Seperti slogan TNI, “NKRI harga mati”. Rasa nasionalis terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa jaman dahulu kala, harus selalu dijunjung tinggi. Apalagi di jaman modern sekarang terlalu banyak adopsi budaya asing yang ditelan mentah dan melupakan jati diri bangsa Indonesia.

Apa persiapan kita dalam memperingati HUT RI 17 Agustus kali ini? Lebih baik kita semua membawa cermin hehe (mau dandan?). Tidak… Tidak… Maksud saya disini, kita mesti berkaca pada pribadi masing-masing. Bertanya pada nurani. Apa yang telah kita berikan untuk bangsa? Bukan hanya malah komen aja bisanya, tanpa ada solusi. Mengkritik tanpa tau alasan dan seluk beluk lebih dahulu. Menutup mata juga telinga akan lingkungan sekitar. Jangan sampai keadaan kita seperti halnya benda mati, ada dan tidaknya tak memberikan manfaat.


Ayo bangkit! Mari kita upgrade semangat perubahan. Pandang keatas langit. Lihat negeri tetangga. Belajar, belajar dan belajar lebih. Bagaimana kita maju seperti halnya mereka atau bahkan lebih. Mereka bisa, apalagi kita, iyakan? (retoris). Sejarah mengingatkan, bangsa kita tu udah ditempa di jaman penjajahan. Kuat, pantang menyerah sejakdulu. Kita harus meniru sesepuh dan leluhur-leluhur kita. Perlu ditekankan, Indonesia merdeka tu bayar sobat. Nggak gratisan. Bayarnya dengan harta, darah dan nyawa. Ingat, ingat…*tink :)

Kamis, 14 Agustus 2014

Kenal Dulu Donk

Gak etis banget rasanya misal tanpa ada sebuah bosa-basi berkenalan (alasan aja). Ya...kayak quote yang udah booming banget dah di kuping pembaca bin penonton (pastinya juga liat layar monitor kan hehe :D). Tak kenal maka tak sayang. Namun, juga bisa kok improvisasi kalimat ni semau kita hehee. Misal diganti tak kenal maka ta'aruf (arab: berkenalan). Ni sih kelakuan anak rohis gitu biasanya. Istilah kenalan sama lawan jenis. Ngakunya sih ta'arufan. Gak tau juga mereka ngerti arti makna lebih jauh apa nggak hehee.

Okey...saya (biar lebih sopan lah pake kata 'saya') awali memperkenalkan diri (baca: blog). Hmm...saya mulai dari alamat dulu deh. opoini.blogspot.com. Pengennya saya tu bahas masalah isu-isu yang bisa saya bilang secara pribadi cukup menarik (subyektif) buat diangkat dan dituang jadi tulisan. Opoini saya ngambilnya dari perpaduan dua kata. Opo (bahasa Jawa) => yang padanannya kata 'apa' dalam bahasa Indonesia menurut EYD hehe. Ini => tu buat penunjuk aja gitu. Tapi, secara keseluruhan sih saya bukan itu. Opoini saya bermaksud untuk mengajak Anda berpikir 'apa' yang akan saya tuliskan tentang op'ini' pribadi. Sekali lagi yang perlu digarisbawahi, subyektif pastinya (gak tanya, namae juga opini bro sis :v).

Masalah judul, saya pengen semua elemen mempunyai sudut pandang tak terhingga layaknya lingkaran. Sudut yang tak ditemukan dalam lingkaran (jelas aja, pertanyaan sudut buat arek SD gitu biar bingung :3) Bulat menyeluruh tanpa menyalahkan satu sama laine hehee.

Next...tunggu isian selanjutnya ya. Sedikit semoga bisa menjadi tambahan biar gak tempe aja. Tapi juga tahu hehee.