Dirgahayu RI ke-69. Saya rasa
sudah cukup sepuh usia negara kita ini sobat.
Ibaratkan aja seorang lansia. Tentu sudah banyak pengalaman pahit getir kehidupan hehe. Tapi jangan samakan juga dengan negara
lain. NKRI ini beda. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang banyak sekali pulau tercecer,
bahkan ada yang masih unknown bin unnamed (bingung juga ya punya banyak pulau :3). Sengketa pulau terluar juga masih sering kurang perhatian. Masalah pergeseran tapal batas dengan negara tetangga terutama
yang perlu menjadi sorotan utama. Entah tu geser secara gaib oleh makhluk halus ato kasar haha. Mestinya harus dapat perlakuan khusus. Bagaimana cara
agar warisan leluhur Indonesia ini dapat dijaga seutuhnya.
Sebagai WNI, Warga Negara Indonesia yang baik dan benar (kayak
EYD aja :v), kita semestinya punya rasa bangga akan apa yang kita miliki di tanah
air tempat kita melek pertama kali dan mengenal alam dunia. Bumi pertiwi,
bumi kita menjajakan kaki berdiri tegak. Kekayaan alam yang melimpah ruah. ‘Kolam susu’
istilah Koes Plus. Tongkat kayu ditancapkan jadi tanaman. Benar-benar gemah ripah loh jinawi,
makmur sentosa.
Seperti slogan TNI, “NKRI harga mati”. Rasa
nasionalis terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa jaman dahulu kala,
harus selalu dijunjung tinggi. Apalagi di jaman modern
sekarang terlalu banyak adopsi budaya asing yang ditelan mentah dan melupakan jati diri bangsa
Indonesia.
Apa persiapan kita dalam memperingati HUT RI 17 Agustus kali
ini? Lebih baik kita semua membawa cermin hehe (mau dandan?). Tidak… Tidak…
Maksud saya disini, kita mesti berkaca pada pribadi masing-masing. Bertanya pada nurani. Apa
yang telah kita berikan untuk bangsa? Bukan hanya malah komen aja bisanya, tanpa ada solusi. Mengkritik tanpa
tau alasan dan seluk beluk lebih dahulu.
Menutup mata juga telinga akan lingkungan sekitar.
Jangan sampai keadaan kita seperti halnya benda mati, ada dan tidaknya tak memberikan manfaat.
Ayo bangkit! Mari kita upgrade semangat perubahan. Pandang
keatas langit. Lihat negeri tetangga. Belajar,
belajar dan belajar lebih. Bagaimana kita maju seperti halnya mereka atau bahkan lebih. Mereka bisa,
apalagi kita, iyakan? (retoris). Sejarah mengingatkan, bangsa kita tu udah ditempa di
jaman penjajahan. Kuat, pantang menyerah sejakdulu. Kita
harus meniru sesepuh dan leluhur-leluhur kita. Perlu ditekankan, Indonesia
merdeka tu bayar sobat. Nggak gratisan. Bayarnya dengan harta, darah dan nyawa. Ingat,
ingat…*tink :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar